Cara mengurangi filler words: stop bilang “eee” saat bicara
Filler words atau kata pengisi seperti “eee”, “emm”, dan “anu” adalah sinyal bahwa kamu masih menyusun kalimat berikutnya, jadi solusinya bukan tekad, melainkan mengganti bunyinya dengan jeda hening. Bangun kesadaran dengan menghitung kata pengisi di rekaman, latih jeda yang disengaja lewat bicara singkat berbatas waktu, dan dalam dua sampai tiga minggu latihan harian kebanyakan orang memangkas jumlahnya secara signifikan.
Daftar isi (8)
- Kenapa kita bilang "eee"?
- Kata pengisi yang paling sering dipakai orang Indonesia
- Langkah 1: bangun kesadaran
- Langkah 2: ganti kata pengisi dengan jeda
- Rencana latihan tiga minggu
- Tips untuk percakapan dan rapat sungguhan
- Kata pengisi, suara monoton, dan vocal fry sering datang bersamaan
- Kapan kata pengisi menandakan hal lain
Kenapa kita bilang "eee"?
Cara mengurangi filler words dimulai dari memahami kenapa kata pengisi muncul: mulutmu sudah siap bicara, tapi otakmu belum selesai menyusun frasa berikutnya. "Eee", "emm", "anu", "apa namanya", "kayak", "gitu", dan "jadi" mengisi celah itu dan memberi tahu pendengar bahwa kamu belum selesai.
Ahli linguistik Herbert Clark dan Jean Fox Tree berpendapat bahwa "uh" dan "um", kata pengisi khas bahasa Inggris, bukan bunyi acak, melainkan kata konvensional yang dipakai pembicara untuk menandai jeda yang akan datang, dengan "um" cenderung menandai jeda yang lebih panjang (Clark dan Fox Tree, 2002, Cognition, dalam bahasa Inggris). Dengan kata lain, kata pengisi punya fungsi nyata: menahan giliranmu selama kamu berpikir. "Eee" dan "emm" dalam bahasa Indonesia bekerja dengan cara yang serupa.
Itulah sebabnya mencoba "pokoknya berhenti" jarang berhasil. Solusinya: pertahankan jedanya, buang bunyinya.
Kata pengisi yang paling sering dipakai orang Indonesia
Setiap bahasa punya kata pengisi sendiri, dan dalam bahasa Indonesia daftarnya cukup panjang. Kebanyakan orang punya satu atau dua favorit yang mendominasi:
| Jenis | Contoh | Biasanya muncul di |
|---|---|---|
| Bunyi ragu | "eee", "emm", "hmm" | Awal jawaban, sebelum kata sulit |
| Kata pencari | "anu", "apa namanya", "itu lho" | Saat lupa istilah atau nama |
| Kata sambung kosong | "jadi", "terus", "nah", "habis itu" | Di antara kalimat, menyambung tanpa henti |
| Pelunak | "kayak", "gitu", "sebenarnya", "istilahnya" | Di tengah kalimat |
| Penegas | "ya kan", "gimana ya", "kan" | Di akhir kalimat |
| Campuran bahasa Inggris | "basically", "literally", "which is" | Gaya bicara anak Jaksel |
Kata pengisi menjadi masalah kalau cukup sering sampai pendengar lebih memperhatikannya daripada pesanmu, atau kalau menumpuk di awal setiap jawaban. Pemicu yang umum:
- Bicara sebelum tahu poinmu. Langsung menjawab alih-alih berpikir sedetik.
- Takut hening. Menganggap setiap jeda sebagai tanda kamu kehilangan alur.
- Kecepatan. Bicara cepat tidak menyisakan waktu merencanakan, jadi otak "membeli waktu" dengan kata pengisi.
- Materi baru. Kata pengisi meningkat saat isinya belum dikuasai atau taruhannya tinggi, misalnya saat wawancara kerja.
Langkah 1: bangun kesadaran
Kamu tidak bisa memperbaiki kebiasaan yang tidak kamu dengar. Kebanyakan orang meremehkan jumlah kata pengisinya sampai mendengarkan rekaman sendiri.
- Rekaman awal (5 menit, sekali). Rekam dirimu menjawab tiga pertanyaan terbuka masing-masing satu menit, misalnya "Ngapain saja akhir pekan kemarin?", "Jelaskan pekerjaanmu ke anak umur 12 tahun", dan "Keputusan apa yang pernah kamu ubah?". Putar ulang dan hitung setiap kata pengisi.
- Temukan favoritmu (sekali). Catat kata pengisi mana yang paling sering kamu pakai dan di mana: awal kalimat, di antara anak kalimat, atau sebelum kata yang sulit.
- Kode dari teman (opsional, 1 minggu). Minta rekan kerja atau teman memberi kode kecil yang disepakati, misalnya mengetuk meja, setiap kali kamu mengucapkan kata pengisi utamamu dalam obrolan santai. Kesadaran saja sering sudah menurunkan jumlahnya.
Langkah 2: ganti kata pengisi dengan jeda
Latihan-latihan ini melatihmu nyaman dengan keheningan.
- Jeda mulut tertutup (3 menit setiap hari). Bicaralah tentang topik sehari-hari selama 60 detik. Setiap kali terasa kata pengisi akan keluar, rapatkan bibir dan berhenti satu ketukan. Menutup mulut secara fisik menghalangi "emm". Ulangi tiga putaran.
- Jawaban diawali jeda (2 menit setiap hari, 5 pertanyaan). Minta seseorang menanyakan hal-hal sederhana, atau bacakan dari daftar. Sebelum setiap jawaban, tarik napas tanpa suara dan berhenti satu detik penuh, lalu mulai dengan frasa yang utuh. Ini menyerang titik paling rawan kata pengisi: awal jawaban.
- Membaca pelan dengan jeda (3 menit setiap hari). Baca satu paragraf keras-keras dengan kira-kira dua pertiga kecepatan normalmu, berhenti di setiap koma dan titik. Teks yang sudah tertulis tidak memberi alasan untuk kata pengisi, jadi ini melatih ritme bicara dengan jeda yang bersih.
- Ganti topik mendadak (3 menit, 3 sampai 5 hari seminggu). Tulis sepuluh topik acak di potongan kertas. Ambil satu, bicara 45 detik, lalu ambil berikutnya tanpa berhenti. Transisi spontan adalah tempat kata pengisi bersembunyi; melatihnya dalam situasi santai membangun kebiasaan jeda.
- Mendaratkan kalimat (2 menit setiap hari). Latih mengakhiri kalimat dengan tegas, nada turun dan titik yang jelas, alih-alih menyambungnya dengan "terus eee" atau "jadi". Kalimat yang lebih pendek memberimu tempat alami untuk berhenti.
Rencana latihan tiga minggu
Sekitar lima sampai sepuluh menit sehari sudah cukup. Urutannya penting: sadar dulu, lalu ganti, lalu bawa ke situasi nyata.
| Minggu | Fokus | Latihan harian |
|---|---|---|
| 1 | Kesadaran | Rekaman awal di hari pertama; jeda mulut tertutup; hitung kata pengisi di satu rekaman 60 detik setiap hari |
| 2 | Penggantian | Jawaban diawali jeda plus membaca pelan; satu kali bicara berbatas waktu dengan hitungan kata pengisi |
| 3 | Penerapan | Ganti topik mendadak; jadikan satu percakapan atau rapat sungguhan setiap hari sebagai latihan, lalu catat hasilnya |
Rekam ulang tiga pertanyaan awal yang sama di akhir setiap minggu. Bandingkan hitungannya, bukan perasaannya, karena banyak orang justru merasa lebih buruk tepat saat mulai menyadari kata pengisinya, padahal jumlahnya turun.
Kalau kamu sering bicara dalam bahasa Inggris, mode bicara bebas 30 detik di tes kecepatan bicara gratis langsung menyorot kata pengisi seperti "like", "you know", dan "basically" saat kamu bicara. Voceris juga menilai filler words dan jeda di setiap rekaman dan setiap repetisi latihan, jadi kamu bisa melihat angkanya turun dari minggu ke minggu bersama tempo dan kejelasan. Aplikasinya berbahasa Inggris dan menganalisis suaramu saat berbicara bahasa Inggris, jadi yang dihitung adalah "um" dan "like", bukan "eee" atau "anu"; justru pas kalau kamu ingin lebih lancar saat presentasi, wawancara, atau meeting berbahasa Inggris.
Tips untuk percakapan dan rapat sungguhan
- Siapkan kalimat pertamamu. Kebanyakan kata pengisi menumpuk di beberapa detik pertama. Tentukan cara membuka sebelum mulai bicara.
- Pakai struktur. Frasa seperti "Ada dua alasan. Pertama…" memberi otakmu peta, sehingga lebih sedikit butuh kata pengisi untuk membeli waktu.
- Pelankan tempo. Bicara sedikit lebih lambat adalah cara paling andal untuk mengurangi kata pengisi. Lihat cara berbicara dengan percaya diri untuk latihan tempo dan jeda.
- Izinkan beberapa. Targetkan berkurang, bukan nol. Bicara tanpa keraguan sama sekali bisa terdengar seperti membaca naskah.
- Awasi penggantinya. Sebagian orang menukar "eee" dengan "nah" atau "jadi". Kalau muncul kata pengisi baru, perlakukan dengan cara yang sama.
Kata pengisi, suara monoton, dan vocal fry sering datang bersamaan
Orang yang terburu-buru dan mengisi keheningan sering juga bicara dengan nada datar dan membiarkan akhir kalimat jatuh menjadi derak. Begitu jedamu membaik, ada baiknya memeriksa bagian lain dari suaramu: panduan kami tentang suara monoton saat berbicara dan vocal fry membahas kebiasaan umum berikutnya.
Kapan kata pengisi menandakan hal lain
Keraguan yang sangat sering juga bisa menjadi bagian dari gagap atau perbedaan kelancaran dan bahasa lainnya, yang tidak sama dengan kebiasaan kata pengisi. Kalau kamu mengalami pengulangan bunyi, hambatan saat kata tidak mau keluar, atau kesulitan bicara yang membuatmu tertekan, terapis wicara bisa menilai apa yang terjadi dan menyarankan pendekatan yang tepat.
Pertanyaan umum
Filler words adalah apa?
Filler words adalah kata atau bunyi pengisi yang tidak menambah makna, seperti “eee”, “emm”, “anu”, “apa namanya”, “kayak”, atau “jadi” yang diulang-ulang. Kata-kata ini muncul saat mulut siap bicara tapi otak belum selesai menyusun frasa berikutnya.
Kenapa saya sering bilang “eee” saat bicara?
“Eee” biasanya muncul saat mulutmu siap bicara sebelum otakmu selesai merencanakan frasa berikutnya. Bunyi itu memberi tahu pendengar bahwa kamu masih memegang giliran bicara, karena itu lebih sering muncul saat gugup, lelah, atau bicara tanpa persiapan.
Apakah salah kalau sesekali bilang “eee”?
Tidak. Kata pengisi sesekali adalah bagian normal dari bicara dan bisa membuatmu terdengar alami. Masalahnya ada pada frekuensi tinggi, saat kata pengisi jadi terdengar jelas dan mengalihkan perhatian dari isi pembicaraanmu.
Berapa lama sampai berhenti bilang “eee”?
Kebanyakan orang melihat penurunan jelas dalam dua sampai tiga minggu latihan singkat setiap hari, dimulai dari bicara yang direncanakan lalu ke percakapan spontan. Saat sangat tertekan, sebagian kata pengisi mungkin kembali, dan itu normal.
Apa yang sebaiknya diucapkan sebagai ganti “eee”?
Tidak ada. Jeda hening singkat melakukan tugas yang sama dengan kata pengisi, yaitu memberimu waktu berpikir, dan pendengar menangkapnya sebagai ketenangan, bukan keraguan.
Juga dalam: EnglishEspañolPortuguêsDeutschFrançaisItalianoNederlandsPolskiTürkçeРусский日本語한국어简体中文العربيةहिन्दीTiếng Việt